KITA semua cacat dan terluka. Kalau iman membuat kita merasa tidak bercacat cela, maka kita sudah jauh tersesat.
Goodreads: 4.32 / 5.00 ★★★★☆
Blurb: Malam itu banyak hal yang tak semestinya terjadi. Tetapi, apa boleh buat, Lusifer diyakini merasuki tubuh Mawarsaron, si gadis 16 tahun. Tidak ada pilihan lain: si Iblis Segala Iblis harus diusir. Empat belas anggota Barisan Pendoa berseru-seru, menengking, berbahasa roh, dipadu gaduh suara gitar, mengusir semua kuasa kegelapan. Mawarsaron harus disucikan kembali, dengan cara apapun. Malam itu, dengan senjata kekuatan iman, perang melawan setan dikobarkan. Di tengah segala histeria itu, diam-diam, Markus Yonatan mengemban misi lain.
Genre: Fiksi, Kontemporer, Religion, Young Adults
Kategori: Novela, Literatur Indonesia
BUKU ini saya beli seken—sekalian dengan novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala—dari lapak jual-beli daring komunitas Literature Base (LitBase) di media sosial Twitter / X pada tahun 2024. Kiat untuk memiliki fisik Lusifer! Lusifer! sebenarnya sudah saya rencanakan ketika melihat salah seorang kawan lama, juga membaca novela tersebut di tahun 2020. Dan barulah, setelah kuncir panjang berwarna kuning disematkan di sisi kanan toga, saya diberi rezeki dan kesempatan untuk dapat memiliki, dan membaca salah satu dari karya Venerdi Handoyo ini.
Wujud novela Lusifer! Lusifer! termasuk mungil, dan menyajikan babak demi babak ceritanya ke dalam sembilan bab menggunakan alur maju-mundur. Penulis mampu mengangkat topik bertema keagamaan tentang fanatisme yang terjadi di dalam agama minoritas dengan kebahasaan yang jelas dan lugas. Gaya penuturan Venerdi Handoyo dalam Lusifer! Lusifer! juga terasa mengalir dan mudah untuk diikuti. Menggunakan sudut pandang orang pertama, pembaca diajak untuk ikut merasakan pergolakan hati yang dihadapi dan dialami oleh tokoh utama di sepanjang cerita.
Lusifer! Lusifer! kemudian mengawali kisahnya tentang Markus Yonatan, remaja SMA berumur lima belas tahun yang terlibat dalam praktik "pengusiran setan" bersama anggota Barisan Pendoa. Markus sendiri memiliki seorang kakak laki-laki bernama Matius Abraham, serta kedua orang tua yang aktif mengikuti kegiatan di Gereja Kristen Efesius Jakarta. Namun, seperti pada ucapan pepatah lama: tidak ada gading yang tidak retak—Senin sampai Sabtu Markus anak penakut, kakaknya nyaris jadi berandal motor; ayahnya suka main perempuan, dan ibunya menenggak botol racun serangga.
Sampai pada suatu hari, kakak Markus Yonatan dinyatakan lahir baru. Matius percaya ia ditunjuk oleh Tuhan sebagai pembawa angin perubahan bagi kebangkitan rohani keluarganya. Tidak lama setelah itu, Ayah dan ibunya juga turut lahir baru. Tinggal Markus saja yang belum. Walaupun sang ibu tidak pernah menuntutnya untuk lahir baru, Markus merasakan ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam hatinya: Apakah ia kurang religius? Apakah ia berbeda? Ataukah ia tidak bisa lebih religius karena berbeda sejak dulu? Perasaan-perasan itu kemudian terus berkecamuk di dalam benak Markus. Hingga pada malam pertemuan sel yang diadakan di rumahnya, Markus memutuskan untuk "ikut" lahir baru. "Saya hanya perlu membuat satu keputusan lagi. Kali ini dengan lidah saya. Kuratatatatatatata. Sikaratatata. Sandalawasandalawasandalawa. Hikarasatataratasataratatata." (Bab 2. Malam Penuh Keputusan, Hlm. 25)
Dalam kepura-puraan itu, berbagai peristiwa-peristiwa, pertemuan-pertemuan, dan pengakuan-pengakuan kemudian membawa Markus bertemu dengan Lukas Nataniel—wajah baru di Gereja Kristen Efesius Jakarta, Singa Yehuda (Kak SY)—Kakak Rohani Markus, dan Mawarsaron—adik perempuan Kak SY yang diduga "dirasuki" oleh Lusifer. Mulai memasuki pertengahan cerita, pembaca mengetahui bagaimana awal mula gereja tempat Markus beribadat terbentuk, bagaimana persoalan keyakinan agama bisa berjalan serasi dengan bisnis asuransi, kehidupan di tengah-tengah keluarga yang sangat religius, sudut pandang Kak SY, permasalahan "rumit" yang sedang dihadapi Lukas, "keluguan-keluguan" Mawarsaron, serta kejadian yang membuat Markus dilanda perasaan dosa.
Menjelang dua bab terakhir, alur berubah maju dan terasa menegangkan. Markus kini dihadapkan dengan dua pilihan sulit: memilih akal sehat, atau iman yang selama ini diyakininya. "Kita memang bersaudara dalam Tuhan yang sama dengan mereka, tetapi bukan berarti kita berhak mencampuri urusan keluarga mereka. .... Mendukung teman yang bermasalah bukan berarti mencampuri urusannya. Entah apakah wejangan itu disebut di Alkitab, tetapi akal sehat mengatakan demikian." (Bab 7. Dalam Hadirat Tuhan, Hlm. 85)
Awalnya, saya bangga dapat menyelesaikan novela ini dalam sekali duduk. Namun, apa-apa yang disampaikan oleh Lusifer! Lusifer! justru meninggalkan beberapa pertanyaan di dalam kepala saya. Ada sesuatu yang saya lupakan; sesuatu yang dapat dilihat jelas, tetapi tidak sempat saya tangkap maksud dan maknanya. Kemudian, dalam sesi duduk-duduk berikutnya yang tidak pernah saya jadwalkan, dan dengan seluruh kerendahan hati, saya akhirnya sedikit mencari tahu seputar okultisme dan praktik-praktik eksorsis (sebagai bahan pencerahan). Dari situlah, saya kemudian baru mendapat esensi dari salah satu novela karya Venerdi Handoyo ini.
Lusifer! Lusifer! lantas membuat kita kembali merenung dan bertanya kepada diri sendiri: "Apakah yang kita lakukan selama ini sudah benar, ataukah justru jauh dari jalan Tuhan?" Sebagai pembaca umum dari kelompok mayoritas, novela terbitan POST Press ini dikemas dengan sangat rapi dan epik. Penulis pandai menyelipkan sentilan-sentilan, sindiran-sindiran, serta unsur komedi-satir ke dalam cerita tanpa menyinggung kelompok-kelompok lain. Lusifer! Lusifer! menyadarkan kita bahwa setiap individu membutuhkan seseorang sebagai pendengar dan teman berbagi, alih-alih merespons dan menjawab sebuah permasalahan dengan dogma agama tanpa mempertimbangkan fakta dan akal sehat.
Kekurangan yang saya dapati dari buku ini mungkin hanya satu: terlalu pendek—tentu saja pendek! Walaupun Lusifer! Lusifer! diakhiri dengan open ending, saya selalu penasaran dengan kelanjutan nasib Markus dan Lukas setelah membaca paragraf di akhir Bab 9. Pelepasan Mawarsaron - Bagian Selanjutnya. Secara subjektif, sampulnya tidak begitu menarik perhatian saya, tetapi dari segi pemilihan warnanya, jenis huruf pada judul, dan ilustrasi yang dibuat, saya langsung tahu ada sesuatu yang berbeda pada novela Lusifer! Lusifer!.
Salah satu kisah yang dituturkan oleh Venerdi Handoyo kali ini mengajarkan bahwa menyenangi, membela, dan mempercayai sesuatu secara berlebihan jarang memberikan dampak baik. Kecintaan yang terlalu ekstrem dapat berujung pada lunturnya tenggang rasa, munculnya sifat anti-kritik, dan cara-cara berpikir yang tidak rasional. Pola-pola fanatisme juga (sebenarnya) tidak hanya terjadi di dalam lingkup beragama, tetapi juga tidak terbatas dalam ranah politik, olahraga (misalnya: sepak bola), otomotif (misalnya: racing), teknologi, dan hiburan (misalnya: permainan video, serial animasi, tokoh idola).
Novela ini cocok untuk dibaca oleh semua kalangan masyarakat, terutama yang gemar menilai orang lain agar dirinya terlihat tanpa cela. Harapannya, pembaca dapat lebih bijak dalam menilai sesuatu—tidak hanya berdasar dari apa yang diyakininya saja, tetapi juga dari sudut pandang dan perspektif yang lain. Jika kalian menyukai karya bertema serupa, seperti novel Sang Rahib karya Matthew Lewis, Bukan Pengikutmu yang Setia karya Annisa Ihsani, dan Ritus-ritus Pemakaman karya Hannah Kent, Lusifer! Lusifer! karya Venerdi Handoyo bisa menjadi buku koleksimu berikutnya! [ ]

Comments
Post a Comment