Skip to main content

Resensi Novel Burial Rites (Hannah Kent)

ORANG-ORANG mengaku mengenalmu dari hal-hal yang pernah kaulakukan, dan bukan dengan duduk mendengarkanmu. Walaupun kau berusaha keras menjalani hidup bersih, kalau kau membuat satu kesalahan, kesalahanmu tidak bakal dilupakan.



(Sampul) Burial Rites / Ritus-ritus Pemakaman oleh Hannah Kent

Judul: Burial Rites / Ritus-Ritus Pemakanan
Penulis: Hannah Kent
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Tanti Lesmana
Tahun Terbit: 2014
Halaman / Ukuran: 416 hlm. / 13.5 x 20 cm
Nomor ISBN: 978-602-030-906-4
Goodreads: 4.03 / 5.00 ★★★★☆
Personal Reads: 4.50 / 5.00 ★★★★☆

Blurb: "Aku tak ingat seperti apa rasanya tidak mengenal Natan. Aku tak bisa membayangkan seperti apa rasanya tidak mencintai dia. Melihat dirinya dan menyadari aku telah menemukan apa yang selama ini begitu kudambakan, tanpa kuketahui. Rasa lapar yang begitu dalam, begitu dahsyat dan membuatku terjerumus ke dalam malam, sehingga aku takut bukan kepalang."

Sinopsis: Tahun 1829, di sebuah kota kecil di Islandia Utara, Agnes Magnúsdóttir menunggu pelaksanaan hukuman mati atas dirinya. Karena tak ada penjara untuk menampungnya, Agnes ditempatkan di rumah keluarga Petugas Wilayah Jon Jonsson. Merasa tak nyaman ada pembunuh di tengah mereka, keluarga itu memperlakukan Agnes dengan dingin. Yang mau berusaha memahaminya hanya Asisten Pendeta Thorvardur "Toti" Jonsson yang ditugaskan untuk mempersiapkan Agnes menjemput maut.

Sejak kecil, Agnes hidup dari belas kasihan orang lain dan bekerja berpindah-pindah sebagai pelayan. Kecerdasannya, cara bicaranya yang dianggap asing, dan pengetahuannya tentang kisah-kisah dari buku, membuat orang-orang menjauhinya; nyaris tak seorang pun tahu seperti apa dia sesungguhnya. Agnes jatuh cinta pada Natan Ketilsson, orang pertama yang melihat dia sebagaimana adanya, dan dia pun pindah ke pertanian Natan di tepi laut, tempat sunyi yang hanya dihuni segelintir orang. Namun impiannya akan kehidupan yang lebih baik musnah. Natan Ketilsson tewas dibunuh, dan Agnes menjadi salah satu tertuduhnya.

Sambil menunggu ajal, Agnes menjalani hidup di tengah keluarga Jónsson, membantu pekerjaan sehari-hari dan meringankan beban mereka. Lambat laun sikap keluarga Jonsson mulai mencair. Mereka ikut mendengarkan ketika Agnes menuturkan kisah hidupnya kepada Toti. Hari-hari bergulir tanpa terasa, dan tanggal pelaksanaan hukuman mati semakin dekat ....

Genre: Fiksi Sejarah, Drama, Misteri, Romansa
Kategori: Novel, Dewasa, Terjemahan

BUKU ini (lagi-lagi) saya beli seken dari lapak jual-beli daring komunitas Literature Base (LitBase) di media sosial Twitter / X sekitar tahun 2020 atas rekomendasi seorang kawan lama. Dia bilang, "Buku ini bagus. Kamu harus baca." Saya bilang, "Oke." Namun, setelah membeli buku ini—sekalian dengan Falling into Place karya Amy Zhang dan We Were Liars dari E. Lockhart—nyata-nyatanya, Burial Rites menyelipkan tema romansa "gelap" (dan fiksi sejarah—saya tidak mengetahui ini sebelum membaca novel Ibu Susu karya Rio Johan) yang berlatar di Islandia, tahun 1829. Namun, saya justru jatuh cinta dengan buku ini; dengan ceritanya; dengan sosok misterius Agnes Magnusdottir.

Burial Rites (atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan judul Ritus-ritus Pemakaman) diterbitkan pertama kali pada tahun 2013 sebagai karya perdana Hannah Kent. Menurut penuturan penulis, cerita ini terinspirasi dari peristiwa nyata tentang kasus pembunuhan Natan Ketilsson dan tetap mempertahankan nama-nama yang sama. Burial Rites juga menyabet tiga penghargaan sekaligus di tahun 2014 sebagai Books of the Year, Book Seller's Choice, dan Booktopia People's Choice

Cara Hannah Kent membawakan kisah dan tokoh-tokohnya dalam Burial Rites begitu kuat, hidup, menarik, dan membuat pembaca bertanya-tanya: Siapa Agnes sebenarnya? Patutkan perempuan itu dibela kesaksiannya? Apakah cerita Agnes demikian benar adanya? Buku ini juga tidak luput dari kerja keras tim penerjemah yang mampu berkontribusi merangkai, dan menyusun hasil terjemahan aslinya ke dalam bahasa Indonesia dengan luwes, tidak kaku, sehingga kisah ini dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca. 

Burial Rites menggunakan alur maju-mundur dengan dua sudut pandang, yaitu sudut orang pertama dan sudut pandang orang ketiga—berganti-gantian sesuai tokoh yang muncul. Keseluruhan babak cerita dibawakan dalam 15 Bab, sudah termasuk Prolog dan Epilog. Pada Prolog menggunakan sudut pandang orang pertama, sedangkan pada Epilog menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dengan alur, pemilihan sudut pandang, dan penokohan yang kuat, Burial Rites mampu membuat pembaca mengetahui banyak sudut pandang dari tokoh-tokoh lain terhadap permasalahan yang dihadapi tokoh utama.

Hannah Kent menuangkan skenarionya bersama tokoh "Aku" sebagai Prolog. Kemudian, masuk pada bab pertama, pembaca dipertemukan dengan Asisten Pendeta Thorvardur Jonsson dan ayahnya, Pendeta Jon. Thorvardur (yang akrab dipanggil Toti) menerima surat dari Komisaris Wilayah Bjorn Blondal yang diantar seorang pelayan dari Havmmur. Dalam surat itu, Toti diminta untuk menjadi penasihat spiritual Agnes Magnusdottir—wanita yang dituduh atas kematian Natan Ketilsson—yang kemudian diejek oleh si pelayan. Dilanda kebingungan, Toti akhirnya meyakinkan diri untuk mengunjungi dan menemani Agnes sampai hari terakhirnya. "Hanya seorang laki-laki, laki-laki yang baik, tahu cara mengatasi perempuan yang telah menyimpang dari jalan yang benar." (Bab Dua, Hlm. 61).

Sementara itu, sesuai dengan perintah Komisaris Wilayah, Agnes dititipkan ke salah satu rumah petani di Havmmur. Di sana, Agnes tinggal bersama keluarga Petugas Wilayah Jon Jonsson, istrinya Margaret, dan kedua anak mereka: Steina Jonsdottir dan Lauga Jonsdottir. Keluarga Jonsson awalnya merasa terganggu karena keberadaan Agnes. Dan hanya Asisten Pendeta Toti yang berusaha untuk memahami wanita itu. Hari terus berlalu, Agnes menjalani hari-harinya dengan membantu pekerjaan sehari-hari. Lambat-laun, keluarga Jonsson mulai memperlakukannya dengan baik, hanya Lauga yang masih bersikap dingin kepada Agnes. "Tidak. Dia tidak seperti kita. Dia tidak sama sekali seperti kita. Dia datang kemari dan tidak ada satu pun yang menyadari bahwa semuanya sudah berubah. Dan tidak menjadi lebih baik." (Bab Delapan, Hlm. 258).

Dengan alur mundur, Agnes menceritakan kisahnya tentang Natan dan bagaimana dia bertemu dan jatuh cinta dengan laki-laki itu. Dalam penuturannya pula, Agnes menceritakan kejadian-kejadian, pengakuan-pengakuan, dan fakta-fakta lain yang tidak diberitahunya kepada Toti. "Tidak seorang pun bisa memahami, seperti apa rasanya mengenal Natan." (Bab Delapan, Hlm. 268)

Menjelang babak terakhir, keluarga Jonsson ikut merasa kehilangan atas kepergian Agnes sehari sebelum hari penghukuman. Cerita kemudian ditutup dengan Epilog lewat sebuah berita acara bahwa Agnes dan Fridrik Sigurdsson—terhukum lain—telah dihukum penggal dan jenazahnya di masukkan ke dalam peti mati. "Pisau itu meluncur dengan mudah. Menembus kemeja Natan dengan tikaman-tikaman rapi. Sejenak kami tertegun saling tatap. Sekonyong-konyong ada perasaan syukur membanjiriku—Natan memandangku lekat-lekat." (Bab Dua Belas, Hlm. 371)

Menyelesaikan novel ini, saya jadi teringat lagu SZA yang berjudul Kill Bill. Walaupun cerita ini berlatar dua abad yang lalu, tetapi antara kisah Agnes dan suasana dari lagu Kill Bill yang dibawakan SZA memiliki "rasa" yang sama. Perasaan saya sempat campur aduk dengan karakter Agnes: sedih, kesal, dan kasihan mengapa akhir hidupnya meski berakhir demikian hanya gara-gara alasan "sepele". Juga, saya merasa simpati dengan karakter Toti karena sudah mau menyanggupi tugasnya, memahami, dan menemani Agnes sampai di hari penghukuman.

Kisah yang dituangkan di dalam Burial Rites menunjukkan bahwa pentingnya sikap memanusiakan manusia—siapa pun orangnya, apa pun latar belakangnya. Novel ini mengajak pembaca untuk mengurangi sikap menilai orang dari apa yang dilihat di permukaan, tanpa pernah tahu seluk beluk dan penyebab sebelumnya. Di sisi lain, Burial Rites memperlihatkan bagaimana cinta dapat membawa seorang ke dalam petaka dan maut.

Secara personal, pengalaman membaca saya sedikit kurang nyaman karena halaman kertas yang kaku. Sampul buku ini juga tidak menarik. Saya sempat curiga, apakah sampul buku ini memang rusak atau bagaimana? Ternyata, desainnya memang dirancang sedemikian rupa sesuai dengan tema yang dibawa. Saya murni membaca ini karena label genre yang tertera di belakang buku adalah "Romansa", bukan "Fiksi Sejarah". Namun, saya tidak merasa kecewa atau apa pun—hanya terkejut sedikit.

Jika kalian menyukai buku dengan tema sejarah, klasik, sedikit misteri dan bumbu romansa, saya sangat merekomendasikan untuk membaca buku ini! Keabuan-abuan tokoh Agnes, alur yang dibuat, dan penokohan yang kuat adalah daya tarik dari Burial Rites. "Tenggorokanku mengatup oleh kepedihan, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang keras, dan membangkitkan kemarahan dan hitam seperti arang." (Bab Sepuluh, Hlm. 325). [ ]

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel The Stranger (Albert Camus)

BAGAIMANAPUN, bisa saja aku tidak yakin tentang apa yang menarik perhatianku, tetapi aku sungguh yakin tentang apa yang tidak menarik bagiku.

Resensi Novel Ibu Susu (Rio Johan)

DIA percaya mimpi itu pertanda.   Dia tidak punya harta yang cukup ditukarkan dengan jasa juru tafsir kota, tetapi dia percaya kalau mimpi susunya itu adalah sebuah pertanda.