DIA percaya mimpi itu pertanda. Dia tidak punya harta yang cukup ditukarkan dengan jasa juru tafsir kota, tetapi dia percaya kalau mimpi susunya itu adalah sebuah pertanda.
![]() |
| (Sampul) Novel Ibu Susu oleh Rio Johan |
Judul: Ibu Susu
Penulis: Rio Johan
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Ilustrasi Sampul dan Isi: Iqbal Asaputra
Tahun Terbit: Oktober 2017 (Cetakan Pertama)
Halaman / Ukuran: vi + 202 hlm. / 13.5 x 20 cm
Nomor ISBN: 978-602-424-692-1
Goodreads: 3.70 / 5.00 ★★★☆☆
Personal Rates: 3.00 / 5.00 ★★★☆☆
Genre: Sastra, Fiksi Sejarah
Kategori: Novel, Literatur Indonesia
UNTUK pertama kalinya, saya membaca novel bergenre fiksi sejarah (sekaligus percobaan kedua saya untuk melanjutkan membaca novel Ibu Susu karya Rio Johan), dan berhasil saya selesaikan dalam kurun waktu satu hari. Sewaktu saya melihat judul dan meneliti sampulnya, serta membaca blurb yang berada di belakang buku, saya langsung bertanya-tanya: "Apa yang sebenarnya dilihat oleh Firaun Theb dari mimpi susunya itu?"
Novel Ibu Susu mengajak para pembacanya untuk menelusuri kehidupan Firaun Theb di era peradaban Mesir Kuno. Dalam novel ini, Rio Johan menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas dan membagi kisahnya menjadi tiga topik utama (ditulis secara tidak berurut): Mimpi Susu Firaun Theb (6 Bab), Susu Ibu dan Ibu Susu (4 Bab), dan Permintaan Perempuan Iksa (5 Bab) dengan total keseluruhan berjumlah 15 bab.
Pada topik pertama Mimpi Susu Firaun Theb, menceritakan bagaimana Firaun Theb menerima mimpi-mimpinya, menyikapi tafsir-tafsirnya, dan bertekad melakukan apa saja demi kesembuhan putranya. Pada topik kedua Susu Ibu dan Ibu Susu, menceritakan bagaimana kegelisahan dan keresahan Sang Istri Agung, Meth, sebagai istri Firaun sekaligus ibu dari Sang Calon Firaun, Pangeran Sem, dalam menghadapi persoalan susu ibu dan ibu susu. Pada topik ketiga Permintaan Perempuan Iksa, menceritakan bagaimana seorang perempuan ringkih dan pesakitan bernama Iksa dengan sepasang kantung susu yang sehat, diramalkan menjadi ibu susu bagi Pangeran Sem.
Penulis juga mampu membawakan fiksi sejarah ini tetap mengalir dengan paparan elemen-elemen yang kental di sepanjang cerita. Cara Rio Johan mendongeng dan memilih padu-padan diksi-diksi arkais, turut memberikan pembaca gambaran seputar kehidupan Musim Kuno di masa lampau. Dari tiga topik utama tersebut, pembaca dapat mengetahui bagaimana penokohan Firaun Theb dan Istri Agung, Meth, serta latar belakang Perempuan Iksa sesuai pada porsinya dalam permasalahan mimpi susu, susu ibu, dan ibu susu.
Kisah Firaun Theb sendiri di awali dengan datangnya sebuah mimpi tentang susu yang begitu ganjil. Tepat dua hari setelah Sang Firaun didatangi mimpi tersebut, putranya—Pangeran Sem—kemudian jatuh sakit. Segala macam usaha kemudian dilakukan demi kesembuhan Pangeran Sem. Meth, Sang Istri Agung sekaligus ibu dari Sang Pangeran, menambah nelangsa ketika mendengar satu-satunya cara agar Pangeran Sem sembuh dari penyakitnya adalah dengan meminum air susu, tetapi Meth—kantung susunya bahkan tidak lagi mengeluarkan air susu!
Melihat keadaan Pangeran Sem yang makin memburuk, pencarian ibu susu pun dilakukan. Berbekal tafsir mimpi dan petunjuk bintang, Firaun Theb bertemu dengan seorang perempuan bernama Iksa, ibu susu ramalan yang air susunya dipercaya dapat menyembuhkan penyakit Pangeran Sem. Firaun Theb lantas memerintahkan Perempuan Iksa untuk mengabdikan diri dengan air susunya, demi kesembuhan calon Firaun masa depan. Namun, perempuan itu ternyata tidak sebodoh yang dikira. Dengan segala tuntutan dari sang calon ibu susu, Firaun Theb terpaksa mengabulkan tiga permintaan Perempuan Iksa. Ketika semua permintaan disanggupi, tabib kerajaan menyatakan perempuan itu positif mengandung anaknya. Berbulan-bulan berikutnya, Perempuan Iksa melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat tanpa cacat, dan turut menyusui Pangeran Sem (sebagai ibu susu pengganti). Keadaan Sang Pangeran pun berangsur-angsur membaik. Namun, tepat pada hari ketiga setelah melahirkan anaknya dan menyusui Pangeran Sem, kantung susu Perempuan Iksa tidak lagi mengeluarkan air susu!
Firaun Theb merasa bahwa ada pertanda lain yang dibawa oleh mimpi susunya. Perempuan Iksa lantas dinyatakan bersalah atas perebutan takhta Putra Mahkota dan dijatuhi hukuman oleh Sang Firaun. Lalu atas saran dari beberapa wazir, bayi orok Perempuan Iksa pun akhirnya turut disingkirkan dari istana. Beberapa Minggu setelah segala rekapitulasi tentang mimpi-mimpi susu Firaun Theb selesai ditulis dan diarsipkan, tepat tiga hari setelahnya, Raja Mesir Kuno itu jatuh sakit dan membawa Firaun Theb pada masa keterpurukannya. "Pilihannya: putraku, atau diriku sendiri," ujar Firaun Theb, "tidak ada pilihan lain; sudah kutentukan pilihanku, malam demi malam, mimpi-mimpi susu itu datang membawa beban yang harus kupikul atas pilihanku." (Susu Ibu dan Ibu Susu (4), Hlm. 188).
Membaca novel Ibu Susu mengingatkan saya pada kisah Nabi Yusuf AS dan Nabi Ibrahim AS dari buku Kumpulan Kisah 25 Nabi dan Rasul yang dibeli Ibu enam belas tahun yang lalu sebagai bahan bacaan pertama saya. Secara keseluruhan, penuturan kisah pada novel ini sudah cukup baik. Ceritanya padat, logis, rapi, dan kaya akan bahasa, serta sarat akan detail-detail dari hasil riset yang tidak tanggung-tanggung dilakukan oleh penulis, dari penafsiran mimpi, pengujian calon ibu susu, rincian dari daftar tuntutan Perempuan Iksa, proses pembagian harta, mantra dan gita-gita, sampai pengujian kehamilan yang dilakukan oleh Istri Agung Meth dan Perempuan Iksa. Penulis juga berani mengambil latar tempat berbeda, dan mengeksplorasi ide sederhana menjadi sebuah cerita unik yang otentik.
Walaupun demikian, novel Ibu Susu tidak luput dari kesulitan saya dalam memahami diksi-diksi arkais yang dituturkan. Narasi-narasi panjang, penuturan-penuturan, serta paparan-paparan data di beberapa bagian membuat saya harus berjuang ekstra melawan kantuk. Agak disayangkan, alur di akhir cerita justru terkesan terburu-buru dan diakhiri begitu saja. Secara personal, sampul buku ini tidak terlalu menarik dan memang ditujukan untuk segmentasi tertentu (terutama untuk para penikmat sastra), tetapi masih bisa ditoleransi karena keingintahuan saya untuk mencari tahu apa maksud di balik ilustrasi artistik nan misterius seperti pada novel Ibu Susu karya Rio Johan ini.
Dari kisah Firaun Theb tersebut, bisa dikatakan bahwa mimpi bisa saja membawa kita kepada sebuah pesan, petunjuk, atau gambaran peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Entah itu pertanda baik, atau pertanda buruk; entah itu peringatan, atau sekedar bunga tidur biasa. Semua kembali pada pengetahuan, keyakinan, dan bagaimana tiap-tiap individu menyikapi dan menafsirkan mimpinya—semata-mata agar lebih bijak bertindak dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Novel ini cocok untuk kalian yang menyukai fiksi sejarah dan novel sastra dari karya penulis lokal, seperti Leila S. Chudori, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, dan Eka Kurniawan. Cerita Firaun Theb akan membawa kalian berpetualang dan menjadi bagian dari peradaban Mesir Kuno yang panas-terik, serta hembusan pasirnya terasa begitu nyata menerpa wajah. Kalau kalian tiba-tiba teringat patung Piramida Sphinx setelah membaca resensi ini, mungkin novel Ibu Susu bisa masuk ke daftar bacaan kalian selanjutnya! [ ]

Comments
Post a Comment